PERDAGANGAN
BEBAS INDONESIA-CHINA SINYAL KRISIS EKONOMI INDONESIA
jr-kaldon.blogdrive.com
Indonesia tengah berusaha
meningkatkan kinerja produksi dalam negeri, khususnya meningkatkan kemandirian
usaha melalui berbagai kebijakan ekonomi (kredit usaha kecil, PNPM mandiri,
kredit Usaha Tani, dan berbagai subsidi pemerintah untuk menumbuhkan ketahanan
ekonomi dalam negeri). Upaya tersebut di atas ditujukan untuk melahirkan
efisiensi ekonomi dalam negeri, sehingga pengusaha lokal mampu meningkatkan
skala ekonomi yang pada akhirnya mampu menyediakan hasil produksi yang dapat
diterima masyarakat pada tingkat harga terjangkau (murah).
Upaya di atas didukung pula oleh
aksi anti korupsi yang diarahkan untuk mengurangi ekonomi biaya tinggi. Ketika
berbagai pungutan liar, serta penyalahgunaan kewenangan anggaran, dan berbagai
penggelembungan anggaran telah terkurangi, bahkan dihilangkan, maka efisiensi
produksi nasional relatif akan tercapai.
Berbagai usaha di atas tengah
dilakukan, efisiensi ekonomi masih merupakan tujuan, hal ini mengandung arti
bahwa harga barang dan jasa yang diproduksi perusahaan dalam negeri baik kecil,
menengah, maupun besar relatif masih mahal, jika proses produksi menggunakan
bahan baku impor maka tentu harga komoditas tersebut semakin mahal, sebab kurs
dollar terhadap rupiah masih tinggi.
Kondisi di atas mencerminkan
bahwa Indonesia sesungguhnya belum siap melakukan perdagangan bebas dengan
negara lain, apalagi dengan negara yang telah mencapai efisiensi ekonomi. Jika
kita tetap melakukannya maka produsen dalam negeri akan kehilangan konsumen
faktual dan konsumen potensialnya, sebab mereka akan beralih kepada komoditas
impor yang lebih murah.
Menyikapi perdagangan bebas
ASEAN-China, khususnya Indonesia-China, sesungguhnya merupakan perdagangan bebas
yang tidak adil. Kita mengenal sistem ekonomi China belum bisa dikatakan keluar
sepenuhnya dari sistem ekonomi terpimpin (Command economic System), berarti
komoditas yang dihasilkan China merupakan komoditas nasional, meskipun
dihasilkan oleh produsen swasta dapatkah kita menjamin hilangnya keterlibatan
Pemerintah China dalam proses produksi (hilangnya subsidi pemerintah, serta
bantuan pemerintah lainnya terhadap pengusaha). Pada kondisi seperti ini
sesungguhnya produsen swasta Indonesia tengah bersaing dengan negara China
sebagai produsen, akan mampukah produsen Indonesia bersaing dengannya ?.
Kesulitan bersaing produsen swasta Indonesia dengan produk China terletak pada
tingkat efisiensi yang dicapai oleh masing-masing produsen. Tingkat efisiensi
produksi produsen swasta Indonesia tentu kalah oleh tingkat efisiensi produksi
China, sebab berbagai unsur pendukung tercapainya efisiensi di China sepenuhnya
merupakan kebijakan Pemerintah China, sebab negaranya merupakan produsen, dan
tingkat ekonomi biaya tinggi di negara China relatif sangat rendah.
Sumbang saran kami untuk
mengurangi dampak negatif perdagangan bebas Indonesia-China terhadap Produsen
Indonesia adalah :
a). Mempercepat proses pencapaian efisiensi ekonomi melalui
pengembangan sarana dan prasarana pasar komoditas lokal (Pengembangan
sarana pasar tradisional, menjadi saran pasar tradisional modern). b). Pengembangan komoditas yang berbasis bahan baku
lokal. c). Meniadakan praktik ekonomi biaya
tinggi yang bersumber dari berbagai pungutan liar yang berkenaan dengan
perizinan serta faktor-faktor administratif lainnya, korupsi, pembengkakan
anggaran (mark up), dan praktir kotor lain yang berkenaan langsung dengan
meningkatnya biaya produksi. d). Menutup
impor barang dan jasa yang telah diproduksi di Dalam Negeri. e). Memperluas jaringan kerjasama usaha di dalam
negeri, sehingga produsen dalam negeri memperoleh kemudahan dalam penyediaan
bahan baku, sumber dana, serta kemudahan melakukan promosi pada berbagai media
massa. f). Meningkatkan subsidi pemerintah
khususnya untuk barang yang diproduksi swasta namun berkaitan dengan hajat
hidup rakyat (misalnya komoditas minyak dan gas alam beserta distribusinya,
komoditas pangan terutama beras, komoditas pakaian dan derivasinya, jasa
komunikasi dan transfortasi, air minum, air bersih, listrik dan komoditas
publik lainnya), hal ini dilakukan agar dicapai efisiensi lebih cepat. (ingat
kewajiban yang diemban negara dari UUD-45, pasal 33).
Perdagangan bebas antar negara
yang memiliki tingkat efisiesi yang seimbang memang menguntungkan, khususnya
bagi pemenuhan kebutuhan konsumen terhadap produk yang tidak diproduksi di
dalam negeri, namun jika perdagangan bebas dilakukan antara negara yang telah
memperoleh efisiensi karena sistem ekonomi dan keterlibatan negara sangat
mendukung dengan negara berkembang yang belum mencapai tingkat efisiensi dalam
perekonomiannya, maka yang terjadi adalah ketidak adilan. Jika perdagangan
bebas memperdagangkan barang yang telah di produksi di dalam negeri negara yang
tidak efisien, maka perdagangan bebas merupakan penghancuran produsen dalam
negeri.
Pergaulan ekonomi dunia bukan ajang pemelaratan manusia, namun alat untuk mensejahterakan manusia, jika ternyata perdagangan bebas melahirkan kesengsaraan rakyat Indonesia, sebaiknya Indonesia menunda perdangan bebas sampai dicapai tingkat efisiensi ekonomi nasional dan siap bersaing.
Pergaulan ekonomi dunia bukan ajang pemelaratan manusia, namun alat untuk mensejahterakan manusia, jika ternyata perdagangan bebas melahirkan kesengsaraan rakyat Indonesia, sebaiknya Indonesia menunda perdangan bebas sampai dicapai tingkat efisiensi ekonomi nasional dan siap bersaing.
Repensi :
Menurut pendapat , dampak dan pandangan saya :
Melalui
focus yang tajam dalam mengidentifikasi peluang-peluang baru yang baru muncul
seharusnya Indonesia mengembangkan pasar di dalam negri untuk memperkenalkann
produk-produk kepada nasyarakat . bahwa produk yang di produksi oleh Indonesia pun
tak kalah bagusnya dari produk luar negri . jadi dengan membuka diri
mendengarkan masukkan maka Indonesia harusnya berupaya menggali ide-ide
inovatif untuk meningkatkan kualitas , dan dengan mengemas secara terpadu
bergam jasa dan fasilitas Indonesia harusnya senantiasa melahirkan di negri
untuk meningkatkan daya saing dari luar negri khususnya cina .
Jadi kalau semua sudah di
perkenalkan kepada masyarakat bahwa produk Indonesia lebih bagus dan harganya
pun terjangkau , terutama cina , jepang dan Thailand yang sudah menguasai
perdangan bahkan pasar Indonesia pun bias di kuasai oleh Negara-negara tersebut
, cina adalah Negara yang menguasai pasar-pasar terbasar terutama Indonesia ,
jika hasil produksi kita bisa lebih bagus dan terus di inovasikan tidak
kemungkinan produksi Indonesia pun bias go public . Dampaknya bagi bangsa Indonesia kalau semua yang di atas
sudah di penuhi kita akan sukses kalau tidak di penuhi waspadalah kita akan
tertinggal dari Negara lain .
2 komentar:
Mudah masuknya produk-produk China yang harganya relatif sangat murah akan mematikan UKM. Hal itu dapat menghambat daya saing dari produk-produk UKM karena masyarakat Indonesia memliki tingkat perekonomian yang lemah. Masih banyak masyarakat yang miskin. Masyarakat Indonesia lebih cenderung menyukai barang yang harganya murah walaupun mereka tahu barang tersebut bukan produk Indonesia. Bukan berarti mereka tidak mendukung produk Indonesia atau tidak ingin memajukan produk Indonesia, melainkan tuntutan ekonomi lah yang menuntut mereka membeli produk yang murah. Produk tekstil dalam negeri kalah bersaing di wilayah timur Indonesia terutama di Sulawesi produk tekstil China yang menang 30% di pasar domestik. Untuk itu, bagi pelaku UKM yang menggunakan mesin dan karyawan banyak dibutuhkan revitalisasi mesin agar bisa produktif. Produk China akan membanjiri Indonesia. Produk-produk China yang masuk ke sini bukan hanya barang-barang modal, melainkan juga barang-barang konsumsi yang harganya supermurah, yang beberapa di antaranya berpotensi merusak kesehatan. Beralihnya posisi produsen UKM menjadi pedagang karena produsen merasa mereka akan lebih aman jika hanya menjadi pedagang. Hal ini tentu sangat fatal akibatnya.
Mudah masuknya produk-produk China yang harganya relatif sangat murah akan mematikan UKM. Hal itu dapat menghambat daya saing dari produk-produk UKM karena masyarakat Indonesia memliki tingkat perekonomian yang lemah. Masih banyak masyarakat yang miskin. Masyarakat Indonesia lebih cenderung menyukai barang yang harganya murah walaupun mereka tahu barang tersebut bukan produk Indonesia. Bukan berarti mereka tidak mendukung produk Indonesia atau tidak ingin memajukan produk Indonesia, melainkan tuntutan ekonomi lah yang menuntut mereka membeli produk yang murah. Produk tekstil dalam negeri kalah bersaing di wilayah timur Indonesia terutama di Sulawesi produk tekstil China yang menang 30% di pasar domestik. Untuk itu, bagi pelaku UKM yang menggunakan mesin dan karyawan banyak dibutuhkan revitalisasi mesin agar bisa produktif. Produk China akan membanjiri Indonesia. Produk-produk China yang masuk ke sini bukan hanya barang-barang modal, melainkan juga barang-barang konsumsi yang harganya supermurah, yang beberapa di antaranya berpotensi merusak kesehatan. Beralihnya posisi produsen UKM menjadi pedagang karena produsen merasa mereka akan lebih aman jika hanya menjadi pedagang. Hal ini tentu sangat fatal akibatnya.
Posting Komentar